Rabu, 16 Januari 2013

Masyarakat Raja Ampat Papua

Masyarakat Kepulauan Raja Ampat umumnya nelayan tradisional yang berdiam di kampung-kampung kecil yang letaknya berjauhan dan berbeda pulau. Mereka adalah masyarakat yang ramah menerima tamu dari luar, apalagi kalau kita membawa oleh-oleh buat mereka berupa pinang ataupun permen. Barang ini menjadi semacam 'pipa perdamaian indian' di Raja Ampat. Acara mengobrol dengan makan pinang disebut juga "Para-para Pinang" seringkali bergiliran satu sama lain saling melempar mob, istilah setempat untuk cerita-cerita lucu.



Mereka adalah pemeluk Islam dan Kristen dan seringkali di dalam satu keluarga atau marga terdapat anggota yang memeluk salah satu dari dua agama tersebut. Hal ini menjadikan masyarakat Raja Ampat tetap rukun walaupun berbeda keyakinan.

Kearifan lokal yang terjaga dikalangan penduduk asli membuat kawasan indah ini selalu terjaga kebersihannya. Banyaknya ekosistem tidak membuat penduduk dengan seenaknya mengambil guna untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bukan hanya itu, bahkan untuk mendapatkan gurita, nelayan masih menggunakan cara tradisional yaitu dengan menggunakan tangan sendiri. Mereka akan mencari gurita disaat air laut surut dengan mengandalkan daun kelapa agak kering yang dibakar untuk penerangannya.

Bukan hanya itu, penduduk tidak pernah memberi makan binatang liar dan berdekatan dengan mereka agar kelangsungan hidup mereka tidak terganggu oleh penduduk sekitar. Dengan selalu menjaga kearifan lokal, penduduk sekitar telah sangat membantu kelangsungan kehidupan ekosistem dan kekayaan alam dari Pulau Raja Ampat.

Selasa, 15 Januari 2013

Foto Pemandangan Raja Ampat






Kabupaten Raja Ampat adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Waisai.

Kabupaten ini memiliki 610 pulau. Empat di antaranya, yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo, merupakan pulau-pulau besar. Dari seluruh pulau hanya 35 pulau yang berpenghuni sedangkan pulau lainnya tidak berpenghuni dan sebagian besar belum memiliki nama.

Sebagai daerah kepulauan, satu-satunya transportasi antar pulau dan penunjang kegiatan masyarakat Raja Ampat adalah angkutan laut. Demikian juga untuk menjangkau Waisai, ibu kota kabupaten. Bila menggunakan pesawat udara, lebih dulu menuju Kota Sorong. Setelah itu, dari Sorong perjalanan ke Waisai dilanjutkan dengan transportasi laut. Sarana yang tersedia adalah kapal cepat berkapasitas 10, 15 atau 30 orang. Dengan biaya sekitar Rp. 2 juta, Waisai dapat dijangkau dalam waktu 1,5 hingga 2 jam.

Penginapan di Raja Ampat Papua

Apakah anda salah satu orang yang ingin berkunjung ke Raja Ampat ? Nah, jika benar, maka anda harus mempersiapkan segala sesuatu nya dari jauh hari, karena tidaklah mudah hidup lama di daerah orang tanpa ada rekan atau keluarga disana, termasuk mempersiapkan tempat penginapan. Dibawah ini ada 4 nama penginapan di Raja Ampat Papua yang cukup terkenal dan nyaman.




Acropora
Lokasinya ada di Ibukota Kabupaten Raja Ampat Waisai dan tidak begitu jauh dari pelabuhan Waisai. Acropora merupakan penginapan yang berbentuk cottage dan nyaman bagi para penyelam atau pengunjung yang memiliki tujuan bisnis, profesi, atau wisata.

Waiwo Dive Resort
Waiwo Dive Resort berlokasi di Ibukota Raja Ampat, Waisai, yang terletak di salah satu pulau terbesar, Pulau Waigeo. Penginapan berkonsep "lebih dekat dengan alam" itu terdiri dari 12 cottage yang bernuansa etnik Papua.

 Raja Ampat Dive Resort
Berbeda dari Acropora, Raja Ampat Dive Resort dikelola oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat. Konsep cottage yang dipakai mengutamakan teduhnya pohon-pohon hutan tropis agar terhindar dari sengatan matahari.

Homestay di Perkampungan Penduduk
Selain hotel dan cottage, homestay di perkampungan penduduk juga dapat menjadi pilihan Anda menginap. Ada lima desa wisata di Raja Ampat yang menyediakan homestay, di antaranya Desa Sawinggrai dan Desa Arborek.

Senin, 14 Januari 2013

Kesenian Warga Raja Ampat

Walaupun berada di dalam kawasan pulau raksasa, Papua, Raja Ampat memiliki kebudayaan dan kesenian yang berbeda dengan masyarakat yang hidup di wilayah tengah dan timur Papua. Kebudayaan maupun kesenian yang hidup di wilayah ini adalah hasil paduan antara kebudayaan Papua dan Islam dari Maluku utara. Semua itu terrepresentasikan dalam sejumlah tarian seperti, tari Mapia, Mambefor, Wor, prosesi pengangkatan raja, Wor Yeknan, dan atraksi budaya lainnya. Acara ini turut dimeriahkan dengan pameran wisata bahari yang digelar di kawasan Waisai dan menampilkan potensi wisata bahari yang ada di masing-masing daerah di kabupaten yang berdiri pada 9 Mei 2003 silam itu.



Pemerintah kabupaten Raja Ampat sangat konsen dalam mengkampanyekan kekayaan daerahnya dari sektor parawisata, guna lebih mempromosikan keindahan alam laut pemerintah Kabupaten Raja Ampat melakukan kegiatan tahunan dengan membuat festival bahari yang menampilkan kegiatan wisata bahari di . Festival Raja Ampat tahun ini rencananya akan di laksankan tiap tanggal 18-21 Oktober 2012. panitia pelaksana menampilkan sejumlah agenda  festival raja tahun ini dikemas lebih beda dan menarik.

Biasanya Festival Bahari Raja Ampat ini diadakan pada pertengahan tahun sekitar bulan Agustus, sangat menarik untuk pergi ke Raja Ampat pada saat Festival. Karena banyak sekali tarian dan budaya yang ditampilkan di festival ini. Salah satunya adalah atraksi Tari – tarian khas daerah Papua, dan yang sangat menarik untuk saya adalah banyaknya makanan khas Papua yang dimunculkan disini.

Selain itu masyarakat Raja Ampat setempat siap mempertontonkan perahu tradisionalnya yang digunakan nenek moyangnya untuk mengarungi lautan. Masyarakat Raja Ampat juga akan mempertontonkan kebiasaan mengonsumsi buah. Di festival ini pengunjung bisa menikmati makanan khas Papua secara gratis.

Sejarah Wisata Raja Ampat



Raja Ampat berarti “Empat Raja”, julukan yang berasal dari abad ke 15 yaitu ketika salah satu Sultan Islam dari Tidore menunjuk 4 raja lokal di Waigeo, Batanta, Salawan, dan Misool. Kemudian 4 pulau itu menjadi wilayah administrative Provinsi Papua Barat dan Waigeo menjadi ibukota Kabupaten Raja Ampat.Peradaban kuno di Raja Ampat dapat ditemukan di beberapa peninggalan sejarah seperti misalnya lukisan dinding batu di beberapa gua di Pulau Misool.Lukisan dinding batu kuno inidiperkirakan dilukis pada 2000 tahun yang lalu.

Di kawasan gugusan Misool ditemukan peninggalan prasejarah berupa cap tangan yang diterakan pada dinding batu karang. Uniknya, cap-cap tangan ini berada sangat dekat dengan permukaan laut dan tidak berada di dalam gua. Menurut perkiraan, usia cap-cap tangan ini sekitar 50.000 tahun dan menjadi bagian dari rangkaian petunjuk jalur penyebaran manusia dari kawasan barat Nusantara menuju Papua dan Melanesia.

Kabupaten yang memperingati Hari Ulang Tahun setiap tanggal 9 Mei ini sekarang merupakan sebuah Kabupaten di Propinsi Papua Barat yang dimekarkan dari Kabupaten Sorong pada tahun 2003. Bila kita lihat peta Propinsi Papua Barat maka letak Kabupaten ini terletak di kepulauan sebelah barat paruh burung pulau papua. Kabupaten Raja Ampat terdiri dari kurang lebih 610 pulau yang memiliki panjang total tepi pantai 753 km. Pusat pemerintahan dan sekaligus Ibukota bagi Kabupaten Raja Ampat adalah sebuah kota yang terletak di Pulau Waigeo, yaitu kota Waisai.